Home / Aceh / Kesaksian Suheluddin
Kesaksian Suheluddin tentang Pertemuan Soekarno?Beureueh dan Cikal Bakal GAM Oleh: Aboeprijadi Santoso - Amsterdam, 2005-08-13 10:58:25

Kesaksian Suheluddin

tentang Pertemuan Soekarno?Beureueh dan Cikal Bakal GAM
Oleh: Aboeprijadi Santoso – Amsterdam, 2005-08-13 10:58:25
Tak banyak lagi saksi hidup dari pergerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DII/TII) di Aceh?khususnya saksi-saksi yang handal seputar diri pemimpin Aceh, Daud Beureueh.

Salah satu versi sejarah berasal dari seorang bekas kurir Abu Beureueh, Suheluddin Sanusi Juangga Batubara. Pria asal Medan, 69 tahun ini kini menetap di Kuala Lumpur, Malaysia. Dua tahun lalu, Desember 2003, di rumahnya yang sederhana di pusat kota itu, dia mengungkap kisahnya kepada Radio Nederland (wawancara 18 dan 19 Desember 2003).

Kisahnya bermula pada 1948, ketika Daud Beureueh bertemu Presiden Soekarno di Hotel Atjeh (kini tak ada lagi, dulu di seberang kanan Masjid Baiturrahman). Soekarno datang dengan tujuan mengajak Abu Beureueh membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Saat itu, perang dunia kedua telah usai namun Belanda mulai melancarkan agresi militer untuk menguasai kembali bekas jajahannya selama tiga setengah abad itu.

?Tolong bantu revolusi ini, perjuangan kemerdekaan ini,? kata Soekarno seperti ditirukan Suheludin.

Lalu Abu Beueureh pun bertanya kembali kepada Soekarno, ?Untuk apa Indonesia merdeka??

Soekarno pun menjawab: ?Untuk Islam, Kak!

?Betulkah ini?? selidik Beureueh.

?Betul, Kak?.

?Betulkah ini??

?Betul, Kak?.

?Betulkah ini??

?Betul, Kak. Aku seorang Muslim, ditakdirkan Tuhan sekarang menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama yang baru kita proklamirkan. Sebagai seorang Muslim, saya bersumpah bahwa kemerdekaan kita ini adalah untuk Islam. Jadi tolong Kakak berikan sokongan untuk mempertahankan Republik kemerdekaan kita ini?.

Mendengar jawaban Soekarno, Daud Beureueh kontan memanggil para ulama-ulama Aceh.

?Macam mana??

?Wah syahid!? kata para ulama itu. ?Ayo kita bantu, syahid! Kita syahid kalau mati pun.?

Lantas, sebagaimana banyak dikisahkan selanjutnya, Abu Beureueh pun meminta agar Soekarno menulis janjinya pada selembar kertas. Janji bahwa kemerdekaan Indonesia adalah jaminan pelaksanaan syariat Islam.

?Betul. Dia minta, tolong ambil kertas. Waktu itu Soekarno nangis. Apa gunanya saya menjadi seorang Presiden, kalau Kakak tidak percaya sama saya. Jadi Pak Natsir (Mohammad Natsir, pemimpin Masyumi, red) ketawa,? kenang Suheluddin.

?Sudahlah, sudahlah,? kata Natsir.

Akhirnya, Soekarno tak jadi menulis janjinya, dan Abu Beureueh menerima apa yang disebut Suheluddin sebagai ?janji-janji muluk Soekarno?.

?Janji muluk itu pun kawan-kawan Abu Beureueh sudah merasa puas bahwa memang revolusi kemerdekaan ini adalah untuk Islam: menegakkan negara pemerintahan Islam di Indonesia.?

Yang terjadi selanjutnya sudah jamak diketahui khalayak. Sesudah penyerahan kedaulatan Aceh kepada Indonesia itu, tahun-tahun berikutnya yang terjadi meneurut Suheluddin adalah pengkhianatan dan penangkapan-penangkapan. ?Malah kawan-kawan beliau pada ditangkapi. Macam-macam semuanya. Beliau pun diperlakukan cara-cara kasar. Diperlakukan oleh TNI yang berkuasa waktu itu. Jadi reaksi Daud Beureueh, ya…. kita bertahan lagi.?

?Ayo kita bergerak lagi,? kata tokoh-tokoh DI/TII kepada Abu Beureueh waktu itu.

Saat diwawancara Radio Nederland, dua tahun lalu, usia Suheluddin sudah 67 tahun. Itu artinya, ketika dialog antara Soekarno dan Abu Beureueh, Suheluddin masih terhitung bocah 14 tahun. Pun begitu, dia berusaha merekonstruksi lakon sejarah di mana belakangan, dia menjadi bagiannya.

Suheluddin sendiri bukan orang Aceh, melainkan muslim dari Medan. Ketika itu, selesai pemberontakan DI/TII 1962, dia diperintahkan Daud Beureueh menuju ke Malaysia.

Berikut wawancara selengkapnya:

Apa sebenarnya yang diharapkan Abu Beureueh ketika bertanya kepada Soekarno. Apa dia berencana merdeka atau mau menjadikan negara Islam sendiri, atau minta apa?

Waktu Soekarno minta supaya ikut revolusi mempertahankan kemerdekaan, tentunya, itu masalah mati. Abu Beureueh bertanya, matinya mati apa? Ya kan? Ya, ini mesti tanya dulu. Untuk apa? Supaya jelas soal mati itu…

Soekarno menganggap Abu Beureueh akan bersama dengan Republik, tapi …

Memang begitu. Ya, karena janji itu, Aceh jadi bertahan sampai saat terakhir. Sehingga (menjadi) satu-satunya wilayah yang tidak diduduki oleh Belanda. Semua teritori timur, waktu itu sudah jatuh ke tangan Belanda. Dan serta merta, kita istiharkan Sumatera Timur di bawah pimpinan Dokter Teungku Mansyur …

Lantas, ambisi Aceh merdeka itu lahir dari mana?

Kalau perjuangan Aceh merdeka yang dipimpin Hasan Di Tiro selama ini dikenal sebagai suatu perjuangan nasionalisme modern untuk mendirikan suatu nation state, negara-kebangsaan. Sebenarnya sudah merupakan janji Hasan Di Tiro bahwa perjuangan akan dilanjutkan dengan agenda menjadikan Islam sebagai dasar untuk suatu negara baru kelak.

Rupanya Abu Beureueh ingin bertemu orang-orang Aceh yang ikut dalam Darul Islam. Hasan Di Tiro kan menteri luar negeri NII (Negara Islam Indonesia).

Apa pesan Abu Beureueh yang Anda bawa?

Ya, Abu Beureueh mengatakan kita tidak terpengaruh dengan perkembangan terakhir di Indonesia. Kita akan terus melanjutkan perjuangan. Sebagaimana pesan yang juga disampaikan oleh Pak Natsir. ?Tidak terpengaruh! Ini akan terus!? kata Abu Beureueh. (Tapi) tak ada yang tertulis. Lisan semuanya. Juga kepada Pak Natsir.

(Ketika bertemu Hasan Tiro di Malaysia, menurut Suheluddin, Hasan Tiro bereaksi seperti ini: ?Nasihat Abu Beureueh memang akan kita teruskan. Barangkali kita ubah sedikit corak perjuangan. Kita mau perjuangan kemerdekaan. Sebab dengan perjuangan kemerdekaan akan merubah sifat perang ini dari perang tentara kepada perang kemerdekaan.?)

Lalu Suheluddin pun kembali ke Aceh untuk meneruskan tanggapan dari Hasan Tiro kepada Abu Beureueh. ?Saya konfrontasikan (pernyataan Hasan Tiro) itu, dan kata Abu Beureueh ?baguslah, bagus??.

?Cuma, kata Hasan Tiro, senjata betul-betul harus disediakan. Jangan selama seperti ini lagi. Kita berjuang tanpa senjata,? katanya pada Abu Beureueh.

(Kisah ini berbeda dengan cerita di sebuah mingguan Jakarta edisi Agustus 2003 yang menulis bahwa Hasan Tiro diterima oleh Abu Beureueh di Jakarta tahun 1970an sebelum Abu Beureueh meninggal. Dan ketika Hasan Tiro mengatakan keinginan untuk membuat negara merdeka, Abu Beureueh bertanya: dasarnya apa negara merdeka satu bangsa Aceh? Abu Beureueh tidak mendengar kata Islam sebagai dasarnya. Jadi Abu Beureueh diam saja tidak menunjukan persetujuan.)

Jadi mana yang benar?

Mereka tidak jumpa di Jakarta. Hasan Tiro memang pulang ke Aceh tahun 1975 itu. Dia pulang, (1975 Abu Beureueh masih di Banda Aceh) dan mungkin ia balik lagi keluar, kemudian balik lagi tahun 1976 untuk proklamasinya. Perjumpaan 1975 itu untuk melaporkan kepada Abu Beureueh bahwa dia sudah siap sedia.

Jadi perjuangan GAM ini kelanjutan dari DI?

Ya! Sebenarnya begitu. Hakekatnya begitulah. Cuma dalam pelaksanaannya mungkin beberapa kebijakannya musti disesuaikan keadaan. Tapi hakikat sebenarnya, ya! sebagai lanjutan dari yang lama itu.

Saya tidak tahu sebenarnya dasar GAM. Tapi kata Hasan Tiro, Aceh akan tetap sebagai basis kita untuk menegakan Islam. Kalau Aceh merdeka. Sebagaimana Aceh di masa dulu sebagai basis bagi perkembangan Islam. Nah itu janji Hasan Tiro, sekurangnya kepada kawan-kawan yang dekat. Dan saya tahu itu diucapkannya seperti itu! Kita akan tetap menjadikan Aceh sebagai basis. Kepada saya juga diceritakan begitu. Aceh tetap menjadi basis kita. Kalau Aceh merdeka pun, Aceh tetap basis. Itu juga yang menjadi kelanjutan dari DI yang sebelumnya.

Tapi ternyata GAM tidak begitu. Ini kan suatu perjuangan menuju kemerdekaan berdasarkan kebangsaan, bukan konsep keislaman?

Ya, tampaknya begitu. Hasan Tiro juga berpendirian begitu. Kalau kita klaim, sebagaimana ceritakan dulu, kalau kita klaim Indonesia (sebagai) negara Islam Indonesia, kita kan tetap dianggap sebagai perang saudara. Perang dalam negeri. Tapi kalau merdeka itu perang kemerdekaan namanya. Berbeda itu, katanya, perang saudara dan perang kemerdekaan itu. Semua ini dikatakannya pada tahun 1960-an. [A] Info : AcehKita

About Abdul Aziz

Biographical Info

Check Also

Hari ini 4 Tahun yang lalu..

Ya Allah.. Hari ini 4 tahun yang lalu gempa dan tsunami di aceh.. ……. gue …

5 comments

  1. menarik..
    pengungkapan sejarah dari sisi yang berbeda..

  2. bagaimana dengan kak piper ?? lebih percaya yang mana ?? apakah versi ini atau versi lain ?

    v1p3r^boy say :
    cerita ini sebenernya udah pernah gue denger dulu..
    dan ceritanya juga hampir ga jauh beda koq don..
    Negara ya Negara Islam…

  3. teruslah berjuang menegakkan islam saudaraku, karena kita juga di sini sedang berjuang, insya alloh kita kita nyambung.

  4. ni bakal nambah pengetahuanhttp://viper.acidblog.net/smilies/yahoo_dance.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *